kapan hari seseorang dari masa lalu mengirimi saya email. bertanya kenapa saya memblokir akunnya di sosial media. bertanya kenapa saya gak mau angkat telponnya. emmm, sejujurnya saya belum bisa kalau harus langsung ngobrol sama dia. ada perasaan begitu bersalah yang bertahun-tahun belum bisa saya hilangkan. saya seperti takut, malu, ragu, kalau harus bicara langsung seolah-olah pertemuan dan perpisahan kami berlangsung baikbaik saja, padahal tidak seperti itu. saya adalah orang asing yang tibatiba hadir dalam hidupnya yang menyenangkan. orang asing yang iri pada cara dia menjalani harihari. lalu mencoba menerobos masuk tanpa mempedulikan apa-apa. tapi waktu berjalan, manusia berubah, termasuk saya. saya di sini selalu menyesali dan berandai-andai jika dulu kami tidak pernah bertemu. mungkin saya tak akan menjadi perempuan jahat yang sanggup menyakiti hati orang lain dengan begitu sadar.

saya masih kangen dia. saya masih sering memutar memori kebersamaan kami. saya masih begitu mengagumi kebaikan dan ketulusannya. saya masih sering nyinyirin dia yang begitu cemburuan hehe. saya kadang suka kangen mendatangi kotanya pagipagi buta. saya kangen menghitung rumah yang terlewati dalam perjalanan itu. dan kangenkangen lain yang sebenarnya terlalu banyak untuk menceritakan pertemuan kami yang begitu singkat.

saya akui saya salah. meninggalkan dia begitu saja untuk menikah dengan seseorang yang berstatus pacar selama bertahun-tahun. harusnya saya pamit, bicara baikbaik, tidak kabur begitu saja seperti kalo saya berhenti kerja tanpa memberikan surat pengunduran diri. iya, saya kabur begitu saja karena saking lelahnya dengan lakilaki yang kebanyakan janji 🙂 ada yang bilang menyayangi saya tapi ya tetap tak bisa melakukan hal lebih banyak, ada yang berkata mencintai saya tapi tak bisa menyempatkan waktu untuk bertemu (hey, cin, ini buat kamu), atau ada yang sepertinya tulus mengingnkan saya tapi terlalu takut untuk memulai kembali suatu hubungan. di tengah perasaan-perasaan sedih yang kadang datang tak tahu diri itu, ada pria yang melamar dan berjanji akan membuat saya bahagia, dan saya tak perlu berpikir lama kecuali saya yakin bahwa dengannya saya ingin menjadikan hidup yang kemarin sebegitu berantakan, menjadi jauh lebih baik.

kita memang gak bisa memilih untuk menjatuhkan hati. semua datang begitu alami. tapi kita pada akhirnya tahu pada siapa mesti melabuhkan hati. mempercayakan mimpi. dan tanpa mempunyai keberanian untuk memulai, semuanya tak akan pernah berarti (berima gini haha)

terlalu banyak cerita dalam masa lalu saya. terlalu banyak sakit dan luka yang terus saya bawa sampai sekarang. saya hanya berharap dalam setiap hari, semoga saya bisa menjadi ria yang lebih baik. meski sesekali suka mengingat halhal yang sudah jauh berlalu. ya, namanya juga ria, kalo gak inget kenangan, kayanya ga bakal bisa bertahan haha

Advertisements

aku masih menyimpan dengan rapi bukubuku pemberianmu. amat rapi sama seperti halnya saat kepalaku menyimpan keping demi keping ingatan masa lalu. sesekali aku melihat demi memastikan mereka–bukubuku–memang baikbaik saja di dalam sana. dalam lemari tertutupku sehingga tak ada siapapun yang akan tahu jika semua itu adalah bukubuku pemberianmu.

aku juga menyimpan baikbaik kenangan mengenaimu. bagaimana saat pertama kamu datang ke kotaku. bagaimana saat aku dan kamu tibatiba berubah menjadi menjadi kita–yang sekarang baru kusadari kalau itu adalah ide yang teramat buruk. bagaimana aku yang sempat menangis membuangbuang air mataku demi seseorang yang pernah sangat ingin meninggalkanku.

setiap aku melihat bukubuku pemberianmu, mau tak mau kepalaku dipaksa memutar hal demi hal mengenai kita. kadang aku berpikir, alangkah menyenangkan jika saja waktu bisa berhenti di masa itu. aku mungkin bisa terus tertawa dan berpikir bahwa kamu juga tengah bahagia. tapi bukankah, waktu adalah salah satu yang tak bisa kita tawar?

aku akan terus menyimpan bukubuku pemberianmu. aku menyimpannya seperti aku menyimpanmu dalam salah satu petak di kepalaku yang kurasa sudah terlalu sesak dengan halhal yang kadang tidak begitu penting.

setelah melupakan ritual merawat wajah sejak menikah, belakangan saya mulai bertekad melakukannya dari awal lagi. gimana nggak dari awal, muka saya sudah kusam gak karuan karena sejak menikah sekitar tiga tahun saya sudah melupakan ritual demi ritual itu.

saya langsung hamil. melahirkan. menyusui. hamil lagi. melahirkan. menyusui. terus seperti itu bertahun-tahun. rasanya waktu nggak cukup 24jam untuk mengurus bayi dan membereskan rumah. belum masak. belum lahir lagi adik bayi. sampai saya lupa kalau wajah sudah berubah mirip kulit badak 😦

saya masih memakai day cream. tapi saya melupakan night cream. saya masih sesekali maskeran. udah itu aja selama bertahun-tahun. selain karena skincare yang mahal dan berpikir mending dipakai buat beli bajubaju bayi yang luculucu, saya selalu mengira gak akan punya waktu luang melakukannya. dan ternyata saya salah.

belakangan saya merasa wajah saya semakin menyebalkan. kusam. gak enak dilihat. saya akhirnya memutuskan melakukan perawatan rutin. peeling seminggu sekali. maskeran seminggu sekali. pake sunscreen, toner, serum, dan night cream. pakai sabun wajah juga. dan alhamdulillah pelanpelan struktur wajah jadi membaik.

saya melakukan ini untuk diri sendiri. bukan untuk suami apalagi orang lain. belakangan saya semakin menikmati ritual demi ritual itu. apalagi penampakan wajah yang kian bersahabat. berikutnya saya mau beli lulur kocok buat badan dan sabun kojiesan anti aging biar badan juga terawat :))

oya, pas liat tv kemarin saya nyeletuk sama suami, “liat deh, evi masamba aja bisa sebersih itu loh kulitnya kalau dirawat. apalagi aku?”

dan ternyata semuanya sempet aja kalau dipaksain ya :))

aku tahu kamu selalu membaca tulisanku. aku tahu bukan hanya karena kamu ingin tahu bagaimana kabarku, tapi karena sebenarnya kamu memang suka membaca apa saja, kan?

aku tidak lagi perlu memberitahumu bahwa aku baru saja menulis halhal tentang kamu. suatu hari yang entah esok atau kapan, kamu pasti membacanya dan tahu jika tulisan ini memang ditujukan untukmu.

aku tidak tahu sampai kapan akan terus mengingatmu seperti ini. entah lima atau sepuluh tahun ke depan, aku ingin sekali bisa mengetahui dari sekarang: apa aku masih akan selalu menulis untukmu meski kamu sudah lama berhenti menulis untukku?

aku ingin tertawa jika seandainya berpuluh tahun kemudian aku masih saja mengingatmu di selasela helai demi helai rambutku yang mulai memutih. rasanya amat menyedihkan dan mungkin mirip kesepian panjang yang dingin. persis seperti cerita dalam novel yanv mungkin pernah kamu baca: seseorang yang terus berusaha menyimpan hatinya untuk seseorang yang telah lama menyerah pada takdir kehidupan.

berpuluh tahun kemudian, aku akan tersenyum mengingat betapa sebelumnya aku pernah membayangkan: seberapa lama aku akan terus mengingat dan menulis mengenai seseorang yang mungkin telah melupakanku begitu saja di pertemuan terakhirku dengannya. dulu di kota itu.

ada halhal yang tak pernah bisa kita kendalikan. satu diantaranya adalah ingatan. entah bagaimana ia bisa berlarian riang, menenuhi kepala yang kadang sudah terlalu lelah akan kenangan yang itu itu saja. lantas kemudian ia berjalan lambat seperti sengaja ingin menunjukkan betapa berkuasa kenangan akan ingatan demi ingatan yang sesungguhnya ingin cepat kita lupakan.

aku selalu mengira kepalaku ada taman gersang dengan kursi kayu usang. tidak ada ayunan, tidak ada anak berlari kencang, pun tak ada sepasang kekasih yang sedang duduk bersisihan. di kursi kayu itu, hanya ada daundaun kering yang berjatuhan, sisa hujan semalaman, dan jejak kaki yang entah milik siapa.

aku selalu membayangkan kepalaku sebagai kunangkunang yang tersesat dari kawanan. meski terang, tapi cahayanya tidak akan pernah bisa mengalahkan gelap malam. sampai pada akhirnya ia sendiri lupa pada jalan pulang.

aku selalu melihat seorang anak kecil di dalam kepalaku. duduk sendiri di antara helai daun kering. matanya yang bulat menatap kosong ke atas langit. mata yang gelap seperti loronglorong yang entah menuju ke mana. lalu seekor kunang datang, berharap bisa mendiami mata itu. selamanya.

saya memanggil dia kang. kepanjangan dari kakang. panggilan untuk orang yang lebih tua (lakilaki) dalam bahasa sunda (yang mana memang dia lebih tua dari saya. becanda :)))

saya sering mampir di blognya sekadar tahu apa yang sedang dia lakukan. sedang berada di kota mana. seperti apa kegemarannya sekarang. sedang membaca buku terbitan mana. atau emosi-emosi tersirat yang coba dia sampaikan dan sedikit banyak bisa saya tangkap melalui tulisannya.

saya kangen dia? pasti. saya suka mengingatnya sebelum tidur dan sesekali dia datang dalam mimpi. saya suka mengintip instagramnya dan melihat gambar dirinya sembari tersenyum. saya melihat lekatlekat orang yang pernah hadir dalam hidup dan memberi banyak hal sangat berarti. mengajarkan saya tentang kerendahan hati dan ketulusan luar biasa.

apa kemudian saya berani bilang kalau saya kangen dia? nggak. sempat berpikir untuk mengirimi dia pesan kalau saya kangen. kalau saya baca tulisan dia. kalau saya memandangi fotonya berlama-lama. tapi buat apa? hanya supaya kita mengenang masa lalu berdua? setelah itu apa? kita tidak mendapatkan apa-apa karena hidup yang tengah berjalan sekarang adalah sesuatu yang sangat jauh berbeda dari saat kami bersama dulu. dan sebisa mungkin saya tetap menyimpan apapun yang saya rasa sendirian.

sukses ya, kang, buat segala hal menyenangkan dalam hidupmu. terimakasih sudah pernah mengisi hidupku yang tak ada apa-apanya ini. terimakasih sudah pernah mau mendengar ocehanku yang katamu suka ngalor ngidul ga jelas. terimakasih pernah berkata kalau tatapan mataku sering kosong saat bercerita. terimakasih pernah merasa kehilanganku di antara rak tumpukan bukubuku. terimakasih untuk waktu yang tak pernah bisa terbeli dan kembali. terimakasih untuk semuanya. karena hidup terus berjalan. dan kita mau tak mau mesti terus mengayun langkah–yang tak lagi bisa bersisihan, tapi doaku tak pernah lupa memelukmu dari kejauhan.

kapan hari iseng lagi mention suhu yo di twitter, saya tanya apa ia punya teman praktisi hypnosis perempuan. lalu saya diberi sebuah link facebook. saya add dan akhirnya ngobrol via facebook.

kenapa sih pengen hypno terapi segala? memang kamu kenapa? mungkin itu yang selalu dipertanyakan setiap saya mengemukakan keinginan ini. bahkan suami pun sama sekali tidak mendukung karena melihat saya baikbaik saja. padahal luka hati memang tidak bisa terlihat jelas, kan? dia bisa tersimpan lama dan meledak secara tibatiba. saya takut. saya cuma takut tibatiba meledak dan tidak tahu cara mengatasinya.

saya iseng tanya tentang tempat praktek dan tarif untuk satu kali terapi. ternyata mahal ya :)) satu kali terapi dikenakan 850ribu. padahal dulu saya pernah sekali dihypnosis oleh suhu yo dan gratis :))

sampai pada akhirnya mbak terapis ini bilang kalau dia sedang di luar kota dan bisa melayani terapi by phone dengan tarif seikhlasnya. kesempatan :)) saya pun menelepon dia tadi pagi di sela rengekan anak yang minta ini itu.

pada intinya saya belum bisa berdamai. berdamai dengan apa? dengan diri sendiri. masa lalu. sakisakit yang harusnya pelan saya obati supaya tidak semakin lama tinggal dan malah jadi bernanah. berdamai dengan kesenangan yang tidak mungkin saya lakukan lagi sekarang seperti sebelum saya menikah: jalan sendirian, nonton film kesukaan, menulis hingga tengah malam, chating dan ketawa ketiwi nggak tahu waktu. terapinya? sebenarnya saya sudah tahu tips ini sejak dulu. tapi kemalasan mengalahkan segalanya :))

sebelum tidur saya diminta mengucapkan terimakasih. terimakasih pada apa saja. bersyukur atas apa yang sudah dan sedang terlewati karena semua ada proses hidup yang mau tak mau mesti dijalani. terus setiap hari seperti itu.

kedua, setiap kesal, marah, kecewa, saya diminta ambil napas dalamdalam dan embuskan pelanpelan sebanyak tiga kali. iya, ternyata hal paling berat adalah menenangkan diri sendiri, ya? 🙂

saya diminta melakukan dua hal simple (yang kalau dijalani mungkin juga tidak sesimple itu selama 5 hari) setelahnya mungkin beliau akan membawa saya masuk ke alam bawah sadar dan menghitung dari sepuluh sampai satu haha

ps: saya pernah dihypnosis oleh suhu yo. diajak masuk ke masa lalu dan bertemu ria kecil. ria kecil datang dengan riang. tidur menatap langit di samping saya dan berkata, “kamu ga usah takut. masih banyak orang yang sayang dan peduli padamu. hadapilah.” lalu dia menemani saya menatap langit. lama. lama sekali sampai air mata saya kering dan dada saya sesak menahan haru. iya, saya kangen ria kecil. ria kecil yang selalu ada dalam tubuh saya dan meminta dikeluarkan. agar saya juga bisa kembali riang seperti dulu. dulu sekali sebelum saya tahu bahwa luka ternyata meninggalkan gores demi gores yang untuk merabanya saja, saya butuh begitu banyak keberanian.

Tadi pagi ketika hendak mengajak anakanak bermain, aku melewati sebuah tempat pemakaman umum yang padat. petak demi petak berjejer padat ditandai dengan nisan pemiliknya masingmasing. pikiranku menerawang, sedang apa mereka di dalam sana?

selain keberadaan bayi selama berada dalam perut ibu, apa yang terjadi ketika kita terbaring di bawah tanah adalah halhal yang juga tak bisa dijangkau manusia. ketika berada dalam perut ibu–yang menurut para dokter itu gelap tapi hangat–bayi bisa nyaman meski kian lama ukuran tubuh yang membesar membuat mereka jadi kesulitan untuk dapat bergerak. dulu, ketika rania ada dalam perutku, aku sering melihat apa yang dia lakukan melalui sebuah alat ultrasonografi. waktu itu aku melihatnya sedang mengunyah–entah mengunyah apa karena setahuku janin mendapatkan makanan mereka dari ariari yang tersambung pada plasenta. lalu sekali waktu aku melihat tangannya dilipat ke belakang kepala seperti kita kalau ingin tidur tapi tak mendapati bantal. Aku selalu takjub melihatnya. Lain lagi dengan Rafifa, aku paling sering melihat dia cemberut seperti orang sedang kesal tapi entah pada apa.

kedua anakku selalu betah di dalam perut. 11 bulan mereka harus dikeluarkan melalui jalan operasi. kadang aku berpikir, apa sebenernya mereka tahu kalau dunia luar tak seindah yang dibicarakan orang? atau mereka menyadari bahwa tak akan pernah ada tempat yang lebih nyaman daripada rahim ibu? apapun itu pada akhirnya keduanya harus tetep melihat dunia. iya, terlebih untuk kemudian mengajariku mengenai banyak hal.

lantas di dalam sana. jauh di dalam tanah berukuran sempit. kubayangkan betapa dingin dan lembap, ah, juga gelap. apa kelak ketika aku ditanamkan, masih bisakah kudengar suara derap kaki orang yang datang menengok peristirahatanku? masih bisakah kudengar isak tangis dan rapal doa yang terucap dari bibir yang bergetar? atau aku hanya memejamkan mata? hanya menikmati dingin dan kesepian yang selama hidup begitu sangat aku benci. ataukah ada hal lain seperti yang disebut para pendakwah itu? sejujurnya aku tak berani mengira lebih jauh lagi.

aku pernah mendengar, saat segala fungsi tubuh seseorang telah berhenti bekerja. mati. ada satu organ yang masih bekerja guna memutar memori dalam hidup seseorang: otak. selama beberapa menit kenangan itu ada datang menjejali kita dengan manis dan pahitnya. baik dan buruknya. kubayangkan aku seperti sedang menonton film di bioskop dengan cerita yang bertumpang tindih, karena bukankah selama hidup banyak sekali hal yang terjadi? bahkan beberapa sudah kita lupakan sama sekali?.

salah satu di antara semuanya itu, aku mengira, kisahku dengan cin akan turut hadir entah dengan tempo yang seperti apa.

aku mengenal cin sekitar beberapa tahun lalu. 2011 lebih tepatnya. aku pertama kali menemukan dia di salah satu grup jejaring sosial. berlanjut via messenger. lalu entah kenapa aku merasa bisa terhubung kuat dengannya meski kami tak pernah bertemu sekalipun, sampai detik aku membuat tulisan ini.

aku memanggilnya cin. dia pun demikian, memanggilku cin. cin tentu saja kepanjangan dari cinta. bukan, bukan karena sejak berkenalan kami langsung jatuh cinta. tapi karena kami pernah membahas sebuah film mengenai perbedaan keyakinan dengan judul cin(t)a.

aku memanggilnya cin. lalu kemudian benar menjatuhkan hati padanya. dia mengajari banyak hal. aku menjadi gadis manis sejak mengenal dia. aku diajarinya menangkap momen demi momen kehidupan dengan cara tak biasa untuk kemudian kehirup seperti aku melakukannya pada udara: agar aku bisa terus bertahan hidup. dia membawaku masuk ke dunia dengan warna yang tak biasa. melewati banyak lorong panjang yang entah berujung dimana hanya melalui sebuah cerita.

aku memanggilnya cin. dan dia baru saja merayakan tiga puluh tahun pertamanya. meski kami sekarang tidak bisa bercerita seperti dulu. tapi jejak-jejak yang ditinggalkan seseorang, bukankah akan selalu ada dalam dirimu? membekas seperti telapak kaki yang menginjak tanah basah selepeas hujan: mungkin itu yang kemudian sering kita namakan kenangan.

selamat mengulang hari lahir, cin.

pagi ini, tigapuluhtahun yang lalu, seorang perempuan luar biasa yang kemudian kamu panggil ibu, melahirkanmu dengan penuh suka cita. merayakan kehadiran seorang bayi yang berbulanbulan ikut hidup bersamanya. ikut merasa apa saja yang ia rasa.

aku kadang berpikir. pernah pula mengira-ngira. seperti apa perasaan bayibayi itu di dalam sana: sebuah tempat terhangat dan paling aman yang mungkin tak akan pernah mereka temukan dimanapun juga. apa mereka sebahagia itu, cin? apa kamu merasa semenyenangkan itu?

tigapuluhtahun lalu kamu hadir, yang setelahnya berkembang-tumbuh menjadi seseorang seperti sekarang. seseorang yang sempat mampir–meski sebentar tapi benarbenar memberi banyak warna dalam hidupku. warnawarna itu masih begitu aku simpan. baikbaik sampai mungkin bisa kuingat bertahun kemudian. sampai nanti. sampai nanti ketika kamu mengulang hari di tahun demi tahun berikutnya.

Selamat mengulang hari lahir, ya, cin. selamat merayakan hal demi hal yang tak melulu bahagia ini. bahwa dalam kesedihan pun, kamu ingat, kan, cin? kita pernah begitu hidup di dalamnya 🙂

waktu berjalan. terkadang terasa cepat. sesekali lalu melambat. dan saya hanyalah salah seorang yang terkadang begitu terengah-engah mengejarnya.

ada banyak hal yang berubah. begitu banyak yang tibatiba memaksa saya berubah lebih “dewasa”. usia terus bertambah, anakanak yang semakin besar, kehidupan yang ternyata begitu luas dan kompleks, serta halhal yang datang lalu pergi sesuka hati.

kadang saya kangen saya yang dulu. yang bebas dan belum terikat pada apa dan siapa. saya kangen jalan sendirian. saya kangen orangorang di masa lalu yang jujur masih suka sesekali menyita perhatian saya. saya masih suka stalking mereka melalui akun media sosial. kalau lagi kumat, saya juga suka mengirimi pesan pada mereka. saya kangen dikangeni :))

tapi begitulah waktu, ria. dia berjalan. dan tidak seorang pun manusia yang bisa melawan perputarannya, pun saya. yang sebenarnya lebih suka hidup dalam kenangan. karena kenangan itu abadi. dia sudah terjadi dan akan terus menjadi manis atau malah pahit, dan selamanya akan seperti itu.

sementara saya di sini menapakkan kaki pada kenyataan. sesekali berusaha berlari, meski luka demi luka pada kaki ini masih terasa nyeri. hanya demi beberapa hal (atau malah cuma satu hal) yang mesti saya kejar: senyum kanakkanak dalam diri saya.